Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Semua hal berdialektika, berbenturan, dan berubah. Proses menuju kesempurnaan adalah proses menuju kehancuran. Menjadi abadi berarti membuktikan kefanaan itu sendiri. Dan puncak adalah awal dari kejatuhan.

Kesadaran itu terasa aman selama ia tinggal di ranah gagasan. Yang berbahaya adalah ketika ia bertemu dengan orang yang menggunakannya sebagai tameng, bukan sebagai cermin.Ada jenis manusia yang paling berbahaya bukan karena ia jahat, tapi karena ia merasa baik. Ia membaca banyak buku. Ia bicara tentang kesadaran, tentang keberpihakan, tentang bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia. Tapi ada satu hal yang tidak pernah ia baca dengan serius: konsekuensi dari kata-katanya sendiri.

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks. Literasi adalah kemampuan membaca realita, termasuk realita yang lahir dari keputusan yang kita buat. Orang yang hafal teori pemberdayaan tapi tidak mampu membaca wajah orang yang ia berdayakan sedang kelaparan, bukan orang yang literat. Ia hanya orang yang pandai mengutip.

Idealisme itu murah. Ia tidak memerlukan modal, tidak memerlukan pengalaman, tidak memerlukan akuntabilitas. Cukup keyakinan dan kefasihan bicara, idealisme bisa tumbuh subur di mana saja, bahkan di atas fondasi yang belum pernah diperiksa kekuatannya.Yang mahal adalah tanggung jawab. Karena tanggung jawab memaksa kita turun dari ketinggian gagasan dan berdiri di tanah yang sama dengan orang-orang yang terdampak oleh keputusan kita.

Tanggung jawab tidak bisa disampaikan lewat retorika. Ia hanya bisa dibuktikan lewat tindakan. Dan ketika tindakan itu absen, tidak ada kata-kata yang cukup indah untuk menutupinya. Kita sering lupa bahwa mengajak orang lain masuk ke dalam mimpi kita, apalagi mimpi yang melibatkan nafkah mereka, adalah tindakan yang jauh lebih berat dari sekadar berbagi semangat. Ketika seseorang meninggalkan zona amannya karena percaya pada kata-katamu, ia tidak sedang mempertaruhkan gagasan. Ia sedang mempertaruhkan hidupnya. Dan ketika kamu tidak siap menanggung risiko itu bersama-sama, kamu tidak sedang memimpin. Kamu sedang memanfaatkan kepercayaan.

Ada ironi yang menyakitkan pada orang yang paling banyak bicara tentang kemanusiaan, tapi paling cepat menutup mata ketika kemanusiaan itu mengetuk pintu dalam bentuk yang tidak nyaman, dalam bentuk pertanyaan yang menagih, dalam bentuk wajah-wajah yang menunggu. Karena menghadapi konsekuensi itu melelahkan. Jauh lebih mudah mengalihkan perhatian. Jauh lebih mudah berkata bahwa itu tidak penting. Jauh lebih mudah melanjutkan hidup seolah kata-katamu di masa lalu tidak pernah menciptakan kewajiban apapun di masa kini Begitulah cara kita mengenali batas antara orang yang benar-benar literat dan orang yang hanya gemar terlihat literat. Yang pertama tahu bahwa setiap kata yang ia ucapkan membawa bobot. Yang kedua menggunakan kata-kata justru untuk meringankan dirinya dari bobot itu.

Hari ini orang-orang saling berkirim maaf. Ucapannya indah, kalimatnya tulus terdengar. Tapi maaf yang sejati tidak lahir dari momentum kalender. Ia lahir dari kesadaran bahwa kita pernah berhutang, bukan hanya hutang uang, tapi hutang kehadiran, hutang kejujuran, hutang keberanian untuk tidak menghindar ketika konsekuensi datang mengetuk.

Mohon maaf lahir dan batin adalah kalimat yang berat. Seharusnya.

Tapi di tangan orang yang terbiasa menggunakan kata-kata tanpa menanggung bobotnya, kalimat itu menjadi ringan. Terlalu ringan. Karena maaf yang sejati tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab. Keduanya satu tubuh. Meminta maaf tanpa menyelesaikan yang masih tergantung bukan pengampunan. Itu pelarian yang dibungkus tradisi.

Tanggung jawab tidak mengenal hari raya. Ia tidak libur ketika ketupat tersaji, tidak menghilang ketika baju baru dipakai. Ia tetap berdiri di depan pintu, menunggu, tepat di samping orang-orang yang kamu ajak masuk ke dalam mimpimu, lalu kamu tinggalkan di tengah jalan ketika mimpi itu mulai meminta bayarannya Membaca banyak buku tidak menjamin seseorang mampu membaca situasi. Dan situasi, tidak seperti buku, tidak bisa ditutup begitu saja ketika kamu merasa bosan atau lelah membacanya.

Selamat Hari Raya. Semoga maafmu seberat tanggung jawab yang kamu hindari.