Revolusi Tak Akan Datang dari Kerusuhan Kosong: Sebuah Catatan Pekerja Jalanan
Seorang teman di kiri jalan dengan semangat mengatakan kepadaku bahwa Indonesia bakal revolusi. Dalam hati, aku hanya tertawa. Di wajah, aku tersenyum biasa. Menurutku, analisisnya terhadap aksi tuntutan pembubaran DPR kali ini terlalu dangkal. Atau, dia ikut tersulut api amarah kolektif.
Sejak awal aku sudah merasa ada kejanggalan. Meskipun rakyat memang sudah muak dengan para aparatus negara (pejabat dan semacamnya). Aku pikir kerusuhan ini tidaklah murni. Lalu, setelah itu banyak asumsi berkeliaran dan semakin menguatkan dugaanku.
Karena itu aku sengaja tidak mendalami perkara di aksi ini. Selain sibuk bekerja, sudah lama aku berhenti berharap. Bukan berhenti berharap penindasan kelas ini berakhir, tetapi karena aku pikir akhir dari penindasan ini akan berada di era setelah kematianku. Kecuali, dalam waktu yang sangat singkat kelas pekerja sadar dengan ketertindasannya.
Sayangnya, kesadaran rakyat pekerja saat ini belum terbangun dengan baik. Mereka belum menyadari dengan nalar kritis kondisi pertentangan kelas yang ada. Kalaupun sudah, mereka belum memiliki rencana dan jalan revolusi yang jelas.
Aku masih berharap, dunia yang selalu ada pertentangan ini akan berubah ke arah yang aku yakini baik untuk semua. Aku masih berdiri mengikuti arus perubahan sejarah. Sebab, sejarah selalu berubah ketika suatu kelas melakukan perjuangan revolusioner.