Sebenarnya, aku bukan tiba-tiba menjadi pelari. Aku hanya kembali pada diri yang dulu pernah kutinggalkan. Semuanya barawal jauh sebelum kata pelari punya makna bagiku. Dulu aku rutin berlari setiap minggu sekali. Saat itu, aku berlari hanya karena tubuhku ingin bergerak. Tidak tau pace itu apa, tidak menghitung jarak, apalagi istilah-istilah seperti HR, Vo2 Max, cadence, dan sejenisnya. Aku tidak mengenal itu. Lari bagiku adalah cara sederhana untuk merasakan dunia. Merasakan tanah di bawah kaki, merasakan udara pagi yang sejuk, dan nafas yang mengingatkanku bahwa aku masih hidup.
Lalu waktu berjalan dan aku tumbuh. Aku pergi merantau ke kota. Dan kota menyambutku dengan lampu-lampunya yang gemerlap serta janji manis kebebasan. Pada awalnya, aku merasa menang, akhirnya aku bisa keluar dari lingkaran kecil di pelosok desa. Namun lama-lama aku sadar, kota tidak pernah benar-benar menawarkan kebebasan. Ia hanya memberi pilihan baru untuk lebih terikat.
Pergaulan kota, yang penuh cerita, tawa hingga larut malam, obrolan yang terasa intelektual padahal hanya kamuflase kesepian. Perlahan itu menjauhkan aku dari diriku sendiri. Di kampus aku belajar teori besar tentang manusia. Lalu di luar kampus aku belajar betapa mudahnya manusia kehilangan arah.
Kehidupan terasa berjalan begitu cepat. Semua bergerak cepat, terlalu cepat. Waktu seakan berlari, dan aku mencoba mengimbanginya dengan cara-cara yang salah. Aku pun berhenti berlari. Bukan karena tidak bisa, tapi karena aku sibuk menumpuk pikiran yang tidak pernah benar-benar selesai. Aku sering merasa seperti bayangan. Hadir, tapi tidak utuh. Berjalan, tapi tidak ke bergeser. Di tengah hiruk pikuk kota, aku justru merasa begitu kesepian.
Sampai pada suatu hari, aku ingin berlari lagi. Bukan karena ingin sehat, bukan karena ingin kuat, tapi karena aku merindukan sesuatu yang bahkan belum bisa kusebutkan. Seperti ada panggilan dari masa lalu. Saat aku mulai berlari lagi, aku sadar bahwa bergerak adalah cara paling jujur bagi manusia untuk memahami dirinya. Manusia sebenarnya selalu berjalan ke arah kembali. Karena kehidupan adalah perjalanan dan kesementaraan. Tetapi, mengapa manusia begitu terburu-buru?
Kota boleh membuatku tersesat, tapi jalanan pagi yang sunyi mengembalikanku pada pusat diriku, tempat di mana aku bisa mendengar suara hati tanpa gangguan. Di setiap kilometer, aku belajar bahwa tubuh tidak pernah berbohong. Ia memberi tahu kapan harus berhenti, kapan harus melambat, dan kapan harus melaju cepat. Sementara pikiran sering kali penuh manipulasi, tubuh justru jujur. Mungkin itulah mengapa lari menajadi metode untuk terapi. Cara paling sederhana untuk memahami betapa rapuh sekaligus kuatnya diriku.
Kini, aku berlari karena aku ingin kembali menjadi manusia yang utuh. Tidak sempurna, tidak suci, hanya ingin hadir. Berlari mengajariku bahwa hidup bukan tentang seberapa cepat aku tiba, tapi tentang bagaimana aku bertahan, langkah demi langkah, di dunia yang selalu ingin membuatku terburu-buru.
Aku bukan tiba-tiba menjadi pelari. Aku hanya kembali ke diriku sendiri.