Setiap pendakian, aku menemukan sebuah cerita. Kali ini aku ingin bercerita. Ini adalah cerita tentang akumulasi kapital. Asal-usul manusia menjadi gemar merusak. Dimulai ketika ada pertentangan kelas yang satunya mengklaim kepemilikan dataran di atas bumi sebagai miliknya sedang yang lain bekerja diatas bumi dan berada di bawah kendali si tukang klaim itu.
Para tukang klaim bersaing untuk menjadi penguasa seluruh daratan di bumi. Segelintir yang sudah menguasainya, dia bisa mengatur tata kelola dunia. Tukang klaim kecil-kecilan, demi bersaing menjadi posisi atas (minimal bisa mengatur negara) atau agar anak turunnya tidak menjadi kelas yang bekerja di masa depan, mereka melakukan berbagai cara. Salah satunya, merusak dataran di bumi yang dijadikan tempat tinggal para kelas yang bekerja.
Demi mendapatkan posisi, meraih untung yang cepat dan singkat ada cara mempersempit modal. Begitu yang dilakukan orang-orang itu mengeruk tambang sesuka hati, mengebor minyak, panas bumi, dan semua yang terkait dengannya. Tanpa memikirkan batas bumi berdaya.
Tanpa peduli bahwa setiap kerukan meninggalkan luka, setiap pengeboran merusak keseimbangan, dan setiap pembangunan menyingkirkan mereka yang sudah lama tinggal.
Kerusakan itu "hanya sepetak" katanya. Namun akumulasi yang dari dulu menjadi logika tukang klaim tidak pernah puas dengan “hanya.” Yang kecil menjelma besar, yang lokal menjelma global.
Kelas pekerja yang tingga, terpaksa menerima dampaknya: air keruh, tanah longsor, udara kotor, dan ruang hidup yang semakin menyempit. Mereka berteriak, namun suara mereka dibungkam, dimanipulasi dengan propaganda modernisme, didusati oleh janji-janji kesejahteraan.
Tukang klaim besar semakin kuat, tukang klaim kecil semakin nekat. Bumi pun menjadi papan catur, dan manusia tak sadar sedang berjalan di sambil menggali liang kubur menuju kehancurannya sendiri.