Aku melihat seorang buta sedang meraba-raba dinding lorong ketika berkunjung ke kota. Telapak tangannya terluka, menunjukkan rona merah dari kulit ari yang terkelupas. Mulanya aku mengira dia meraba untuk melihat, menyusuri lorong agar sampai pada suatu tempat. Tetapi, seminggu aku di kota itu hanya melihatnya tetap di sana. Dia berjalan dari ujung ke ujung lalu kembali lagi, setiap hari. Tidak tahu sejak kapan ia memulai. Dia berhenti hanya untuk makan, minum, atau tergeletak tertidur.

Suatu sore, aku mencoba mendekatinya, ketika lampu jalan mulai memancarkan cahaya redup dan cahaya toko yang mulai padam. Suara nafasnya terdengar pendek, seperti orang yang sedang menahan beban tak terlihat. Aku perhatikan jejak darah di dinding lorong yang sudah mengering, bercampur debu, menebalkan warna kusam bata yang sudah lama tidak disentuh hujan. Setiap kali tangannya bergerak, lorong itu seperti ikut berdenyut, seolah-olah dindingnya hidup, menggetarkan bahasa diam yang tak bisa dipahami.

Orang-orang lewat tanpa menoleh, seakan tubuhnya hanya bagian dari tembok. Mereka berjalan cepat, membawa wajah yang sama, acuh dan terburu-buru. Hanya sesekali ada anak kecil yang berhenti menatap, lalu ditarik ibunya pergi. Aku jadi berpikir, mungkin dia bukan sedang mencari, melainkan menutupi sesuatu agar tidak keluar dari dinding lorong itu.

Ada saat ketika ia berhenti lama di satu titik, menempelkan telinganya ke dinding, mendengarkan getaran dinding. Matanya berbinar, tubuhnya bergetar bahagia, seperti sedang menyimak kabar gembira dari balik bata. Tetapi, seketika raut wajahnya berubah muram. Tubuhnya lemas, dan dia terjatuh, terduduk di lantai yang retak.

Hari-hari berikutnya ketika aku melaluinya lagi, aku juga ikut terpengaruh. Tanganku meraba-raba bata yang mulai rapuh. Mencoba mendengarkan getaran di dinding itu. Aku mendengar suara lirih yang menyerupai rintihan. Ah, aku berhalusinasi. Aku melihat si buta itu memeluk dinding. Aku melihat dinding itu memeluknya. Aku merasa sesak. Setiap kali ia bergerak, aku merasa lorong itu makin sempit, makin menekan, seolah lorong ini ikut menyusut bersamanya.

Saat aku berjalan meninggalkan kota, kulihat ia tertidur duduk, bersandar pada dinding. Darah di telapak tangannya sudah kering, meninggalkan kerak hitam yang menempel di kulit. Aku ingin mendekatinya, tapi tubuhku sendiri seperti tertahan. Angin malam berhenti. Di kejauhan, suara bel kereta samar terdengar sekali, lalu diam. Aku melangkah pergi tanpa menoleh.