Akhirnya,
aku menyerah peduli dalam langkah.
Aku lelah mengikuti arahmu yang tak beraturan
bahkan angin masih tunduk pada musim,
tornado pun setia pada pusat pusarannya.
Lalu,
kau bertanya, “peduli apa?”
Masihkah kau mengingatnya
pertemuan pertama kita di meja barista?
Setelah itu, kita duduk berdua
menyesap kopi semalaman.
Sejak itu aku mulai memikirkanmu.
Aku membaca pikiranmu
dari percakapan panjang di ruang aplikasi perpesanan;
menganalisa pola di setiap balasanmu,
meraba keluh di tiap tulisan panjang yang kau bagikan.
Bahkan setiap hertz suaramu ketika bercerita
kuperhatikan saksama
siapa tahu ada hertz yang bergetar,
membawa makna.
Namun, pada akhirnya,
aku tetap tak mengerti apa-apa tentangmu.
Aku menyerah peduli;
berhenti melangkah dan terdiam.
Seketika, langitku terasa engap dan kelam.
Dalam kekelaman ini,
aku masih tetap berharap
kau tak semakin lemah,
tetap kuat melawan hidup
yang menindasmu.