Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki sebuah kelebihan berbeda yakni berpikir. Manusia bebas berpikir apa saja. Pikiran manusia tidak bisa dilarang. “Aku berpikir maka aku ada”, adalah ungkapan yang tak asing lagi dalam dunia filsafat. Semua orang bebas berpikir dan tidak ada pengecualian. Berpikir merupakan fitrah manusia yang diberikan Tuhan sebagai makhluk yang istimewa. Berpikir itu bebas. Tetapi, dalam mewujudkan pikiran kita, itu yang harus berhati-hati. Tidak semua orang bisa menerima pikiran kita. Karena setiap orang diberi sudut pandang dalam berpikir secara berbeda-beda.
Kebebasan berpikir terkadang menjadikan manusia egois dan apatis terhadap kondisi sosial dan lingkungan disekitarnya. Hal itu terjadi karena mereka tidak mengerti fungsi manusia sebagai wakil Tuhan di dunia ini. Ayat Al Quran menjelaskan bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah menjadi khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi. Lalu, sebenarnya apa tugas dari manusia yang menjadi wakil Tuhan di bumi ini?
Tuhan memiliki sifat-sifat baik yang mampu manusia laksanakan. Sebagai contoh Tuhan Maha Pemurah, manusia belajar menjadi pemurah kepada makhluk-makhluk yang hidup bersama disekitarnya. Tuhan Maha Memberi, manusia belajar memberi. Tuhan Maha Adil, manusia menjadi hakim yang adil. Tuhan menyukai keindahan, manusia menjaga keindahan, dan masih banyak contoh lain yang tidak bisa dijabarkan satu persatu. Jadi, tugas manusia yaitu, menerapkan dan mengamalkan sifat-sifat baik Tuhan dalam kehidupan di bumi ini. Baik dengan sesama manusia maupun dengan makhluk lain yang tinggal disekitar kita.
Manusia yang manusia adalah manusia yang memanusiakan manusia. Artinya, sebagai manusia kita memposisikan derajat manusia lain setara dengan kita, memiliki hak yang sama, dan perlakuan yang sama. Tidak ada kasta dan kelas yang mendiskriminasi orang-orang minoritas di dunia ini. Kesejahteraan merata, tidak ada si kaya dan si miskin. Kalaupun ada istilah kaya dan miskin, tentunya orang-orang kaya bukan malah memeras tenaga si miskin untuk menambah kekayaan si kaya itu. Justru orang-orang kaya menjadi pembantu atau penolong orang-orang yang miskin untuk mencapai kesejahteraannya.
Revolusi memang perlu diadakan. Sebelum revolusi terhadap tatanan sosial dan ekonomi, pelaku revolusi tentu perlu merevolusi diri sendiri. Merubah pemikiran yang egois dan apatis terhadap kondisi sosial dan lingkungan sekitar. Revolusi berpikir, agar kita berpikir kritis terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul dalam kehidupan disekitar. Kita harus revolusi. Revolusi untuk membangun negeri. Revolusi dengan melawan ketidakbenaran tanpa kekerasan.