Dunia ini tidak berjalan dari satu sudut pandang saja. Ada milyaran manusia hidup yang masing-masing memiliki cara pandang yang berbeda. Sudut pandang atau perspektif yang relatif itu adalah hasil dari pengalaman individu, lingkungan, dan sistem sosial yang membentuk mereka. Tidak hanya sekedar warisan genetik, sudut pandang manusia juga dipengaruhi oleh struktur sosial yang ada.
Di lain sisi, manusia memiliki perilaku egoisme, dan itu sering muncul sebagai sesuatu yang dianggap alami, tetapi apakah itu benar-benar perilaku bawaan yang diwariskan kepada kita, ataukah sebab dari struktur sosial yang lebih besar?
Relativitas Perspektif dalam Hubungan Kelas
Tidak ada perspektif manusia yang benar-benar netral. Perspektif seseorang adalah hasil dari tempatnya berdiri dalam hubungan sosial, hubungan kerja dan semua kondisi yang melekat dengannya. Mereka yang berada di posisi buruh melihat dunia dari kacamata perjuangan sehari-hari: bekerja, bagaimana bertahan hidup, bagaimana memenuhi kebutuhan, dan sebagainya. Sementara itu, mereka, para kapitalis yang memiliki alat produksi melihat dunia dari puncak kekuasaannya, memandang buruh sebagai nilai lebih dalam akumulasi modalnya.
Di dunia saat ini, di mana kapitalisme berkuasa, relativitas perspektif ini menjadi medan konflik. Ideologi dominan yang dimiliki kelas kapitalis mendikte kelas buruh dengan sudut pandang yang dianggap “normal” atau “benar.” Siapa saja di antara kelas buruh yang memiliki sudut pandang bertentangan dengan kepentingan kelas penguasa akan dianggap salah dan menyimpang. Dengan relativitas perspektif itu juga kelas yang dikuasai diadu domba secara samar oleh kelas yang berkuasa.
Egoisme: Apakah itu Perilaku Bawaan?
Egoisme sering dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari manusia. Tapi ada pandangan berbeda. Dalam kapitalisme, manusia dipaksa menjadi egois karena sistemnya menuntut itu. Kompetisi pasar menciptakan individu yang harus selalu berpikir untuk dirinya sendiri, karena itulah cara untuk bertahan. Kita diajarkan untuk bersaing sejak di bangku sekolah dasar sampai masuk dunia kerja. Manusia dituntut untuk bersaing dan mendapatkan posisi teratas.
Lebih dari itu, kapitalisme membuat kita teralienasi. Kita terpisah dari hasil kerja kita, dari proses kerja itu sendiri, bahkan dari sesama manusia. Hubungan sosial berubah menjadi hubungan komoditas — manusia dilihat dari apa yang bisa mereka hasilkan (nilai jual) atau konsumsi, bukan dari nilai intrinsiknya sebagai manusia. Dalam dunia seperti ini, egoisme bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan yang dipaksakan oleh sistem.
Kesadaran Kelas dan Transformasi Perspektif
Ketika relativitas perspektif bertemu dengan egoisme, kita melihat kontradiksi yang mencerminkan konflik kelas. Perspektif seseorang yang merasa dunia ini penuh persaingan dan membutuhkan “kerja keras individu” sering kali berasal dari ideologi kapitalis yang mereka serap tanpa sadar. Sebaliknya, perspektif mereka yang melihat perlunya solidaritas muncul dari pengalaman mereka di bawah tekanan sistem yang mengeksploitasi.
Pendekatan kritis menawarkan jalan keluar dari jebakan ini. Dengan memahami akar material dari relativitas perspektif dan egoisme, kita bisa melampaui perbedaan yang memecah-belah. Kesadaran kolektif adalah kuncinya. Ketika manusia menyadari bahwa perbedaan perspektif mereka adalah hasil dari posisi mereka dalam sistem produksi, dan bahwa egoisme adalah alat untuk memecah solidaritas, mereka bisa bersatu dalam perjuangan kolektif.
Pendekatan kritis mengajarkan kita bahwa sistem sosial menentukan kesadaran manusia. Dalam kapitalisme, relativitas perspektif sering digunakan untuk memperkuat struktur yang ada, dan egoisme dipelihara untuk mempertahankan status quo. Tetapi itu bukan akhir dari cerita.
Dalam dunia yang mendukung kepemilikan bersama atas alat produksi, manusia tidak lagi terasing dari dirinya sendiri atau dari sesamanya. Perspektif individu tetap beragam, tetapi kerangka solidaritas dan kolektivitas membuat perbedaan itu menjadi kekuatan, bukan kelemahan. Egoisme yang bersifat destruktif perlahan-lahan digantikan oleh semangat gotong royong.
Maka, relativitas perspektif dan egoisme manusia, yang awalnya terlihat sebagai hambatan, sebenarnya adalah medan perjuangan yang perlu kita sadari dan transformasikan. Dengan memahami akar dari pandangan dan tindakan kita, kita bisa mulai membangun dunia yang tidak hanya adil, tetapi juga manusiawi.