Di tengah kesibukan sebagai pekerja, saya sempat membaca sebuah artikel singkat di sebuah media online yang membahas Ilmu Sosial Profetik. Ilmu Sosial Profetik merupakan buah dari pemikiran seorang sastrawan, budayawan, dan sejarawan bernama Kuntowijoyo. Ilmu Sosial Profetik adalah ilmu sosial yang yang menjadikan nilai-nilai idealisme menjadi landasan untuk bertindak.

Menurut Kuntowijoyo, kesadaran manusia (idealisme) menentukan kebendaan di sekitarnya (materialisme). Bagi saya, seorang pekerja yang sibuk dengan pekerjaan setiap hari, pemikiran Kuntowijoyo ini begitu tidak masuk akal. Bagaimana tidak, pemikiran Kuntowijoyo tersebut jika saya hubungkan dengan orang yang lapar, maka pemikirannya menjelaskan bahwa sebelum kita lapar kita mesti sadar dulu. Kita musti memikirkan banyak rumus kehidupan terlebih dahulu sebelum kita mencari makan.

Ketika rasa dahaga dan lapar datang, kita mesti banyak membaca dahulu. Padahal kan orang yang lapar itu kesadarannya hanya sebatas untuk bertahan hidup. Orang yang lapar akan berpikir “yang penting bisa makan, biar tetap hidup.” Dalam konteks lapar yang menentukan antara hidup dan mati, yaitu kondisi ketika makan menentukan kita hidup. Apakah orang dalam kondisi tersebut akan memiliki waktu untuk berpikir panjang?

Mengatakan bahwa kesadaran (idealisme ) itu menentukan kebendaan (basis material) adalah hal yang menurutku sangat keliru. Kuntowijoyo melandaskan pemikirannya pada hal yang abstrak dan tidak realistis. Menurut saya Kuntowijoyo tidak memahami dialektika sepenuhnya. Bahkan sebagai seorang sejarawan, menurut saya dia masih belum memahami sejarah perkembangan masyarakat dengan tepat. Sebab, sejarah perkembangan masyarakat sejak mulanya selalu dilandasi pada basis material.

Utopisnya pemikiran Kuntowijoyo itu karena dia tidak memahami hubungan manusia dengan kebendaan. Mungkin saja Kuntowijoyo lupa bahwa manusia sendiri merupakan makhluk yang berbentuk benda. Manusia tersusun dari sel-sel yang membentuk organ lalu menjadi tubuh biologis. Tubuh ideologis itu memiliki sel syaraf lalu membentuk organ indrawi yang membuat manusia bisa berinteraksi dengan keadaan diluar tubuhnya itu. Organ indrawi seperti, kulit, mata, hidung, lidah, dan telinga membuat kita bisa merasakan kehidupan. Interaksi antara keadaan sekitar dengan organ indrawi tubuh biologis manusia itulah yang mempengaruhi pemikirannya.

Seperti halnya aktivitas membaca buku. Kita melihat tulisan yang merupakan suatu kebendaan melalui indra mata lalu dicerna oleh otak menjadi pengetahuan. Mata, otak, dan tulisan itu merupakan sebuah kebendaan (basis material). Sedangkan pengetahuan itu adalah suatu kesadaran. Coba kita andaikan seperti ini. Kita tidak membaca buku berarti mata kita tidak melihat tulisan dan otak kita tidak mencerna informasi di dalam tulisan. Apakah kita akan mendapatkan pengetahuan dari buku tersebut?

Kuntowijoyo mungkin memiliki anggapan bahwa manusia bukan berasal dari dunia saat ini. Manusia menurutnya berasal dari entitas lain yang tidak realistis. Sehingga dia melandasakan pemikirannya pada hal yang tidak masuk akal dan begitu utopis. Pemikirannya itu masih begitu dangkal untuk menjadi landasan keilmuan sosial. Akan tetapi, ilmu sosial profetik masih bisa sedikit dimanfaatkan untuk transformasi sosial di era seperti saat ini.