Sejak terakhir kali aku menulis surat untukmu, aku masih menyimpan sedikit harapan akan balasan. Tapi waktu berjalan, dan ternyata sudah terlalu lama sejak saat itu. Entah kenapa, aku menulis surat untukmu lagi. Mungkin karena malam ini, aku hanya merasa… sakit. 

Aku tidak tahu pasti apa yang sebenarnya melukai. Tapi aku merasa sakit. Sakit karena egoku yang kebesaran. Karena ketakutan akan kesendirian. Karena hal-hal menyakitkan yang pernah aku alami dan masih tertinggal. Semuanya datang bersamaan, seperti gelombang yang tak bisa kuhindari. 

Aku bertanya-tanya: mengapa manusia bisa merasa sakit yang tak terlihat lukanya? Katanya, itu luka hati. Luka jiwa. Luka yang tidak berdarah, tapi menyiksa. Menurutmu, apakah benar begitu? 

Kalau memang iya, dan jika ini adalah kesepakatan umum bahwa hati atau jiwa bisa terluka, aku jadi berpikir—apakah luka itu benar-benar ada? Luka ini tidak berbentuk. Ia bukan materi. Aku bahkan berpikir, mungkin sakit ini hanya ilusi. Tapi jika luka ini bisa membuat tubuhku bereaksi—sesak, lemas, hampa—bukankah itu berarti ada sesuatu yang menggerakkan tubuh? Energi? Impuls? Dan bukankah itu juga bagian dari materi? 

Mengapa dunia terasa begitu rumit? Mengapa aku memikirkannya terlalu jauh? Dan mengapa aku malah menulis ini? 

Aku tidak tahu. Mungkin karena aku ingin validasi. Aku ingin ada yang membaca. Atau, karena aku lelah berpikir sendirian. Aku takut bahwa rasa ini hanya ilusi, dan aku butuh orang lain untuk memastikan bahwa aku nyata. Bahwa rasa sakitku bukan halusinasi. 

Sialan. Aku tahu ini tidak akan mengubah apa pun. Tapi aku tetap menulis. Tetap bertanya. Karena malam ini, aku hanya ingin merasa bahwa rasa sakit ini… nyata.