Bagi saya, tidak ada hal yang irasional atau pun mustahil di dunia ini. Hal-hal yang mungkin hanya sebuah fantasi di dalam pikiran kita saat ini pada suatu saat nanti akan menjadi nyata. Karena selalu ada orang-orang gila yang menjadikan hal itu menjadi kenyataan. Misalnya hidup abadi di dunia ini. Tentu saja bukan orang gila karena gangguan kejiwaan melainkan gila akan sebuah pengetahuan.

Saat ini kita tidak heran lagi dengan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Teknologi kecerdasan buatan ini dulu hanya sebuah fantasi yang sering menjadi tema film bergenre fiksi ilmiah. Saat ini AI sudah hampir ada di semua perangkat smartphone. Seperti Google Assistant di smartphone android atau Siri di iOS. Meskipun masih terbatas, para ilmuwan akan terus menerus mengembangkan teknologi tersebut.

Maka bukan hal yang tidak mungkin jika suatu saat kita bisa hidup abadi. Berevolusi menjadi manusia yang bisa hidup lebih lama. Evolusi homo sapiens menjadi homo deus seperti yang diterangkan di dalam buku karya Yuval Noah Harari yang belum tuntas saya baca. Bersamaan dengan pembuktian teori fisika kuantum, kita manusia mungkin bisa hidup lebih lama bahkan hidup abadi.

Tidak seperti Yuval yang begitu apik membahas evolusi manusia menuju imortalitas dengan membuat temuan berupa regenerasi sel manusia. Saya hanya akan membahas tentang pelajaran fisika kuantum yang pernah saya pelajari di SMA dan mengaitkannya dengan kehidupan abadi. Di sini saya tidak akan membahas panjang lebar tentang teori ini. Hanya mengambil beberapa kesimpulan dari sedikit yang telah saya pelajari berkaitan dengan fantasi saya tentang hidup abadi di medan kuantum. Sejujurnya, saya belum begitu menguasai fisika kuantum. Namun, saya akan mencoba menuliskan pemahaman saya tentang ini.

Pertama, para ahli fisika kuantum memandang dunia fisik kita, realitas kehidupan yang kita lihat sebagai benda padat di dunia ini adalah sebuah gelombang energi yang merupakan bukan benda padat. Dalam pelajaran ilmu alam, kita akan mengenal istilah partikel, atom, atau molekul-molekul. Dunia fisik kita ini sebenarnya tersusun dari partikel yang sebenarnya tidak bisa dilihat dengan teknologi apa pun. Partikel terkecil yang saat ini mampu kita ketahui adalah quarks yang membangun inti elektron, proton dan neutron sebagai inti atom. Saya pikir quarks bukanlah partikel terkecil yang menjadi dasar dari dunia fisik ini. Kecerdasan manusia belum sampai pada hal tersebut.

Kedua, dalam hukum mekanika, semua hal di alam semesta kita itu bergerak. Kecepatan gerak tertinggi adalah kecepatan cahaya. Dalam kecepatan cahaya, waktu yang kita kenal di dunia ini seperti detik, menit, dan jam tidak akan berguna. Meskipun para ilmuwan menggunakan ukuran detik dalam mengukur kecepatan cahaya. Kecepatan cahaya bisa menghentikan waktu bahkan mengembalikan waktu yang telah berjalan. Namun tidak bisa merubah masa depan. Jika kita pernah menonton film Avengers Endgame, kita akan tahu bahwa waktu berjalan maju dan mundur secara relatif. Hal ini sesuai dengan pernyataan ahli fisika tentang konsep waktu dalam medan kuantum.

Manusia bisa saja hidup abadi di dunia ini dengan tubuh yang sama jika mampu bergerak dengan kecepatan cahaya. Bahkan ia bisa kembali ke masa lampau atau menuju masa depan. Karena ini manusia bisa menghentikan atau memundurkan waktu. Namun, hal ini masih menjadi fantasi kita. Para ilmuwan mungkin saja sudah memikirkan caranya.

Tentang relativitas waktu kita bisa mempelajari dari kejadian mimpi dan isra mi’raj. Mungkin kita pernah bermimpi yang di dalam mimpi itu kita merasa sudah berhari-hari padahal kita hanya tidur dalam beberapa menit. Atau jika kita seorang yang beragama Islam. Kita telah mengenal peristiwa isra mi’raj nabi Muhammad yang mampu berjalan dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya. Dalam satu malam, nabi Muhammad bisa mencapai langit ketujuh dan mengalami banyak kejadian. Padahal di dunia kita, satu malam adalah waktu yang sebentar.

Ketiga, di dalam ajaran agama ataupun kepercayaan lainnya, kita akan belajar bahwa dunia ini hanyalah tempat yang fana. Bahwa ada kehidupan lain yang abadi setelah kematian kita. Hal ini selaras dengan teori biosentrisme yang menyatakan bahwa suatu kesadaran tidak akan mati. Kesadaran manusia tidak akan mati meskipun tubuh fisik kita mati. Ajaran agama mengatakan kita berpindah alam setelah tubuh fisik mati. Teori medan kuantum menyatakan bahwa kesadaran kita berpindah ke dimensi lain karena kesadaran kita terhubung dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta. Kesadaran kita mungkin adalah partikel fundamental yang belum bisa kita lihat dan mampu bergerak dengan kecepatan cahaya. Masih menjadi pertanyaan bagi saya, dari manakah kesadaran itu berasal?

Sebenarnya, tanpa mempelajari fisika kuantum pun kita bisa mengetahui jika manusia itu hidup abadi. Kita hidup abadi dengan berpindah-pindah dari alam satu ke alam lain. Dari dimensi waktu satu ke dimensi waktu yang lain. Dari bentuk fisik satu ke bentuk fisik yang lain.

Untuk menutup tulisan receh saya kali ini, saya kutip syair Rumi,

Aku mati sebagai mineral

dan menjelma sebagai tumbuhan,

aku mati sebagai tumbuhan

dan lahir kembali sebagai binatang.

Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.

Kenapa aku harus takut?

Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.

Sekali lagi,

aku masih harus mati sebagai manusia,

dan lahir di alam para malaikat.

Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,

aku masih harus mati lagi;

Karena, kecuali Tuhan,

tidak ada sesuatu yang kekal abadi.

Setelah kelahiranku sebagai malaikat,

aku masih akan menjelma lagi

dalam bentuk yang tak kupahami.

Ah, biarkan diriku lenyap,

memasuki kekosongan, kasunyataan

Karena hanya dalam kasunyataan itu

terdengar nyanyian mulia;

Kepada Nya, kita semua akan kembali”