Manusia pada dasarnya adalah makhluk individual. Dia berdiri di atas kakinya sendiri. Memiliki ego dan cenderung berperilaku egosentris. Manusia adalah spesies dengan jumlah terbanyak di ekosistem bumi. Hal ini membuatnya harus bisa menempatkan egonya masing masing dengan tepat ketika berinteraksi dengan sesamanya. Hal inilah yang kemudian membuatnya tidak lagi mutlak menjadi makhluk individual. Manusia memiliki kodrat menjadi makhluk sosial.

Namun, dalam urusan perut, manusia akan menjadi sangat individual ketika lingkungan menuntutnya untuk berkompetisi. Artinya, untuk mengisi perut (bekerja untuk mendapatkan makanan) manusia diharuskan untuk bersaing. Maka watak individual manusia kembali mendominasi dirinya. Dia akan mendahulukan dirinya sendiri dari pada orang lain untuk bisa mendapatkan makanan. Bahkan tidak sedikit manusia yang melakukan hal-hal merugikan sesamanya. Hal ini terjadi karena makanan adalah kebutuhan dasar manusia untuk bisa bertahan hidup.

Selain itu, budaya kompetisi ini membentuk watak serakah dan rakus manusia. Tidak sedikit di antara manusia yang memiliki watak serakah dan rakus. Klaim atas kepemilikan pribadi merupakan inti dari keserakahan dan kerakusannya. Kepemilikan ini tidak serta merta ia dapatkan dari Tuhan Yang Maha Memberi. Asal-mula manusia mulai mengklaim kepemilikan pribadi bisa ditelusuri dari ketika manusia mulai mengenal pertanian. Karena pada saat itu manusia mulai menetap dan menduduki tanah dalam waktu yang lama. Meskipun klaim itu masih bersifat komunal. Namun, seiring perkembangannya sampai saat ini klaim itu memusat menjadi klaim atas kepemilikan pribadi.

Sekarang coba kita pikirkan, betapa egoisnya seseorang yang menguasai lahan ribuan hektar sedangkan di sekelilingnya banyak orang yang tidak memiliki lahan sama sekali. Mereka yang tidak punya lahan disuruh bekerja di atas lahannya. Meskipun diupah, upahnya itu tidak sebanding dengan keuntungan yang didapatkan pemiliknya. Padahal si pemilik lahan tidak perlu bekerja untuk mendapatkan keuntungan. Sedangkan mereka yang dipekerjakan, para buruh dan para kuli harus bekerja keras untuk mendapatkan upah.

Di antara para pekerja memang ada yang berhasil mengumpulkan upahnya dan digunakannya untuk merintis usaha atau membeli lahan pertanian. Ada yang berhasil menjadi kaya raya dan banyak yang bangkrut kemudian kembali menjadi pekerja upahan. Mereka yang berhasil adalah pemenang kompetisi dan yang bangkrut tentu saja yang kalah. Karena di dalam persaingan selalu ada yang kalah dan ada yang menang.

Pemenang dalam perlombaan biasanya adalah mereka yang mendapatkan juara satu sampai dengan juara tiga. Juara satu sampai juara tiga akan mendapatkan hadiah yang besar sedangkan peserta yang kalah tidak akan mendapatkan hadiah. Padahal jumlah dari peserta yang menjadi juara dan peserta yang kalah itu lebih banyak peserta yang kalah. Begitu juga dengan kompetisi untuk mendapatkan makanan. Mereka yang kaya raya (kita sebut sebagai pemenang) jumlahnya tidak banyak. Sedangkan para pekerja upahan (kita sebut sebagai yang kalah) jumlahnya sangat banyak. Bahkan dalam survei sudah disebutkan bahwa 1% penduduk di dunia menguasai sekitar 50% kekayaan dunia.

Budaya kompetitif ini sangat membahayakan kehidupan manusia. Terutama kehidupan para pekerja upahan. Kita bisa melihat pada realita saat ini. Pada saat wabah virus (corona virus disease 2019) menyerang umat manusia dan mengakibatkan aktivitas manusia terganggu bahkan terhenti (karena ada ancaman penularan virus dari manusia ke manusia lainnya). Wabah ini telah menunjukkan watak individual, serakah, dan rakus manusia secara jelas. Orang-orang kaya (seperti yang diberitakan) telah memborong  persediaan makanan di supermarket untuk kebutuhan dirinya saat berdiam diri di rumah. Sedangkan mereka para pekerja upahan tetap bekerja meski harus menanggung resiko tertular. Karena upah mereka sebulan tidak cukup untuk kebutuhan makan selama dua bulan.

Hal ini tentu terjadi di negara yang belum melaksanakan karantina wilayah seperti negara Indonesia. Karena dalam prosedur karantina wilayah, negara berkewajiban untuk menanggung kebutuhan rakyatnya. Jika saja pemerintah Indonesia cerdas dan telah melakukan karantina wilayah sejak awal, mungkin wabah virus ini lebih mudah ditangani. Namun sayang, pemerintah Indonesia begitu kendo dan telmi, tidak asag-eseg. Mungkin karena jajaran pemerintah berisi manusia-manusia yang menjadi pemenang. Mereka cenderung lebih mementingkan egonya sendiri (mendahulukan keuntungan pribadi) dari pada orang lain, yaitu rakyat yang menjadi tanggung jawabnya.

Sebagai penutup, ada beberapa pandangan yang saya ajukan sebagai manusia untuk mengatasi permasalahan manusia di zaman sekarang. Pertama, sebagai makhluk yang individual, pemilik ego, dan makhluk sosial, kita harus mampu mengimbangi ketiga kodrat tersebut dan bisa memposisikan pada tempat yang tepat. Di mana tempatnya? Menurut saya, tempat yang tepat itu posisi di mana ketika tindakan itu tidak merugikan orang lain dan diterima oleh banyak orang. Kedua, sebagai makhluk yang hidup saling bergantung, kita sebaiknya sudahi kompetisi ini (kompetisi dalam mendapatkan makanan). Dengan cara apa? Membangun kerja sama antar manusia, kerja kolektif, dan industrialisasi sosial.

Banjarnegara, April 2020