Apakah semua orang sulit melupakan? Tentang hari kemarin yang mungkin menyakitkan jika diingat. Saat melihat, mencium, atau mendengar sesuatu, ingatan itu seperti badai yang datang di langit cerah. Perasaan bahagia setelah berhari-hari menunggu panas matahari untuk menjemur pakaian, hilang, seiring langkah kaki yang berlari untuk mengangkatnya.

Aku hampir seperempat abad menulis ingatan. Dengan tinta darah bercampur air mata dan aku padatkan. Aku lebih suka menulis dengan arang bekas hati yang terbakar karena dendam. Banyak kebaikan yang terhapus karena aku tulis dengan jari di awang-awang.

Tinta darah lebih pekat dan tajam dalam kertas ingatan. Ketajamannya seringkali merobek luka baru. Aku sering menuliskan luka dengan ceceran darah itu. Terkadang bercampur dengan air mata palsu.

Cerita tentang hari kemarin itu tak semuanya menyakitkan. Seperti luka, tidak selalu menyakitkan. Luka gatal, digaruk rasanya menyenangkan, terkadang.

Cerita di hari kemarin, belum tentu sudah selesai. Bahkan, bisa saja terus berlanjut hingga darah ini habis dan api akan padam. Lalu air mata akan mengering seiring dengan hilangnya mata air. Ketika sudah tidak ada lagi tinta, dan lembaran telah habis, masihkah ada jalan untuk menulis ingatan?